Kali ini aku belajar sesuatu yang menarik berkaitan dengan “menulis kreatif”. Meskipun kebanyakan dari kita, termasuk aku sendiri, akan berkata “Ah, menulis kreatif ya jelas menulis dengan tidak monoton. Banyak disisipi alur-alur cerita yang jungkir balik misal. Sehingga dapat ‘menggaet’ minat baca para pembaca.”. Pandangan tersebut tentulah tidak salah. Memang secara kasarnya demikianlah menulis kreatif. Artinya kita mampu membuat rangkaian kalimat yang berdaya untuk memikat minat pembaca. Namun, apakah yang menjadi penting dengan terminasi “menulis kreatif” ini? Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, kita agaknya perlu berdiskusi mengenai beberapa penjabaran berikut ini.
Menulis kreatif memang singkat dalam ungkapan. Hanya dua kata. Secara gamblang bisa juga dijelaskan seperti sebelumnya. Namun berpindah dari sekedar penjabaran singkat terminasi, sebagai penulis atau setidaknya calon penulis, maka kita perlu tahu seluk beluk mengenai topik yang satu ini. Terminasi menulis kreatif bagi para penulis tentu mempunyai kekuatan daya tarik untuk dieksplorasi lebih dalam. Setidaknya ada tiga aspek yang menjadi perhatianku sebagai seorang calon penulis hebat. Aspek tersebut adalah: 1) daya tarik, 2) kepadatan, dan 3) originalitas karya tulis. Nah sekarang setelah diuraikan menjadi tiga sub aspek maka artikel ini pun menjadi semakin menarik untuk dibaca. Penjabaran masing-masing sub aspek ini akan kita perdalam dalam paragraf-paragraf berikut ini.
Aspek pertama yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan sebuah karya menulis kreatif adalah “daya tarik” karya tulis. Apa itu daya tarik karya tulis? Jelas bahwa tulisan kita sebagai karya yang telah terwujud harus memiliki sebuah daya tarik yang akan menarik minat baca khalayak. Perlu kita ingat bahwa menulis sebenarnya adalah bentuk penyampaian gagasan, pikiran, atau ide kita kepada orang banyak melalui kata-kata dalam kalimat. Sekarang, ketika kita menulis, maka menjadi keinginan mutlak dalam diri kita adalah tulisan kita itu akan dibaca oleh orang banyak. Selanjutnya setelah dibaca, maka respon balik dari pembacalah yang kita harapkan untuk menjadi tolok ukur karya tulis kita. Oleh sebab itu, daya tarik sebuah karya tulisan haruslah menjadi materi pokok yang harus tertanan secara tersembunyi dalam setiap tulisan kita. Nah, sekarang bagaimanakah caranya kita “menyisipkan” daya tarik ini ke dalam tulisan kita? Mungkin ada banyak cara sesuai kreativitas masing-masing penulis. Namun menurut pengalaman yang saya dapatkan, penyisipan daya tarik ini dapat kita lakukan dengan menggunakan prinsip “Umum-Khusus”. Prinsip umum-khusus diartikan sebagai penjabaran suatu masalah yang kita mulai dengan mengangkat masalah yang bersifat umum terlebih dahulu baru kemudian diikuti dengan penjabaran yang lebih khusus berkenaan dengan hal yang umum tadi. Cara menggunakan prinip ini mudah saja yakni dengan menempatkan kalimat utama atau pokok pikiran kalimat di kalimat pertama suatu paragraf. Kalimat berikutnya dalam paragraf tersebut alangkah baiknya mengikuti pola atau batasan yang ditetapkan dalam kalimat pertama tersebut. Nah, sekarang darimanakah pemilihan prinsip umum-khusus ini bisa menjadi alat daya tarik bagi tulisan kita? Tentu saja dengan pemilihan kalimat yang bisa menggugah rasa ingin tahu. Dengan menyisipkan kalimat pertama yang akan menarik rasa ingin tahu pembaca, maka kita akan berhasil memikat si pembaca untuk terus menatap kalimat demi kalimat yang kita tulis hingga akhirnya selesai seluruhnya. Untuk menuliskan kalimat tersebut tentu diperlukan latihan yang tidak sedikit dan sebentar. Perlu berulang dan rutin. Jika sudah dilakukan dengan rutin dan berulang-ulang, maka kreativitas kita akan muncul dengan sendirinya. Dan inilah tempat daya tarik kalimat pertama dalam menulis kreatif.
Aspek kedua yang tak kalah penting dengan aspek pertama adalah kepadatan suatu karya tulis. Banyak orang yang bertanya bagaimana cara menulis padat bahasa. Namun ada pula orang yang justru beranggapan bahwa kemampuan menulis dalam jumlah lembar yang super banyak akan dinilai sebagai orang yang pandai menulis. Aku teringat ketika dalam penyelesaian skripsiku beberapa tahun silam. Ketika itu aku tengah menulis skripsiku berkenaan dengan riset yang tengah aku kerjakan. Tidak lebih dari 60 halaman A4 kuhabiskan untuk menulis skripsiku. Namun di pihak lain, temanku menghabiskan hampir 200 halaman A4 untuk menulis draft skripsinya. Keduanya tentu belum ditambahkan dengan lampiran. Dalam kasus tersebut, teman-teman banyak yang mengecam tulisanku yang terlampau singkat. Namun pada akhirnya, kecaman-kecaman tersebut akhirnya kembali kepada mereka sendiri ketika menghadapi ujian pendadaran untuk skripsi yang telah mereka tulis. Tidak berarti bahwa menulis dalam lembar yang lebih banyak membuktikan bahwa sebuah karya tulis lebih bernilai dibanding karya tulis lain yang selesai hanya dengan setengah atau bahkan sepertiga naskah yang panjang itu. Dalam kenyataannya, pembaca, dalam hal ini adalah dosen, akan merasakan bahwa karya tulisan mahasiswa terkesan bertele-tele dan tidak langsung tepat sasaran. Kalimat yang digunakan akan memberikan banyak kelebihan atau redundansi. Namun tidak berarti juga bahwa tulisan yang panjang selalu jelek atau tidak bagus. Tulisan dengan naskah yang panjang adalah baik, apabila ditulis dengan kalimat yang padat. Seorang temanku dulu pernah berkata bahwa dia kesulitan untuk merangkai kalimat panjang ataupun sebuah cerita. Dalam hal ini dia akhirnya hanya bisa menulis terlalu singkat. Nah, menulis terlalu singkat pun tidak baik karena mungkin saja di tengah jalan sang pembaca akan merasa hilang karena tulisan yang kita buat tidak punya korelasi yang baik. Istilahnya kalimat-kalimat yang kita tulis justru membuat para pembaca tersesat dalam karangan kita. Jelaslah dalam hal ini kepadatan suatu tulisan harus diberhatikan untuk menciptakan sebuah karya tulis yang menarik. Oleh karena tulisan yang terkesan hilang ataupun bertele-tele, maka pembaca akan menganggap tulisan kita tidaklah menarik dan kemungkinan besar tulisan kita tidak akan dibaca sampai tuntas. Lalu bagaimanakah agar tulisan kita dapat menjadi padat? Tentu saja dengan memperhatikan pemilihan diksi. Hindari pengulangan yang tidak perlu. Kurangi penggunaan kata keterangan yang berulang-ulang dan menimbulkan efek jijik pada tulisan kita. Untuk bisa mengetahui tingkat redundansi tulisan kita, latihan rutin sangat diperlukan. Semakin banyak kita menulis, semakin tinggi tingkat kesadaran kita akan adanya redundansi dalam karya tulis kita. Pengalaman adalah guru yang berharga. Mungkni itu adalah ungkapan yang paling tepat untuk menyatakan kondisi ini. Biasakan menulis naskah tidak hanya sekali saja, namun setidaknya tiga kali. Menulis pertama adalah untuk menuangkan segala ide yang ada di otak ke dalam sebuah karya tulisan. Menulis kedua adalah untuk memangkas kalimat berlebih; di sinilah kita akan mengurangi derajat redundansi tulisan kita. Yang ketiga adalah mempercantik tulisan kita. Di sini kita dapat menambahkan sentuhan-sentuhan yang diharapkan bisa menambah daya magis tulisan kita.
Yang terakhir dan yang menurutku sangatlah penting adalah masalah originalitas sebuah tulisan. Originalitas memang sesuatu yang senantiasa muncul dalam kaitannya dengan kreativitas. Kita perlu mengingat kembali bahwa tiap-tiap manusia diciptakan secara dan berbeda secara unik. Hal ini berkaitan juga dengan identitas kita. Identitas kita adalah kepunyaan kita sendiri. Tidak bisa kita berkata “Aku adalah Marcello” padalah aku adalah aku. Dalam dunia tulis-menulis kita memang sering punya tokoh penulis idola. Berawal dari situ kita mulai suka membaca karya-karyanya. Jika kemudian kita memutuskan untk menjadi seorang penulis, maka tidaklah mengherankan jika kita memulainya dengan mencontoh sang idola. Hal itu tidaklah salah. Namun sesungguhnya ketika kita membaca karya tulisan orang lain, yang sedang kita lakukan adalah mempelajari bagaimana setiap penulis menggunakan caranya untuk menuliskan sebuah alur cerita. Sebagai contoh sederhana, jika ada tiga orang tengah berwisata ke Candi Prambanan, kemudian usai dari sana masing-masing dari mereka diminta untuk membuat sebuah karya tulisan berkaitan dengan kunjungan mereka itu, maka tidaklah mengherankan jika masing-masing mereka menghasilkan karya tulisan yang berbeda-beda. Seperti arti slogan yang berkata “Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.”, maka dalam hal itu pun begitu. Tulisan mereka bertiga akan berbeda. Namun yang ditulis tetap satu. Sama. Yakni tentang wisata mereka ke Candi Prambanan. Dalam dunia kreativitas, originalitas adalah junjungan tertinggi. Istilahnya berkata, “Tak ada originalitas, tak ada kreativitas. Tak ada kreativitas tak ada uang.”. Benar saja kedua istilah itu. Memang dalam dunia ini yang dihargai adalah originalitasnya, kreativitasnya. Tidak ada orang yang mau bayar kita dengan mahal kalau kita tidak punya sesuatu yang spesial yang bisa kita jual. Sesuatu yang spesial itu menjadi identitas kita yang tersiar sampai ke ujung dunia dan menjadi alasan mengapa orang dari penjuru semesta mencari kita. Demikian pula halnya dengan menulis. Originalitas adalah poros utama menulis kreatif. Aku membaca beberapa artikel yang membahas mengenai kesulitan menulis. Mengapa kita begitu kesulitan dalam menulis? Tidak bisa merangkai kata menjadi kalimat yang panjang. Tidak mampu menuliskan kalimat-kalimat secara konsisten dalam setiap paragraf. Itu adalah alasan-alasan yang sering kita jumpai. Semua alasan itu adalah alasan teknis menulis yang banyak kita dengar, banyak kita jumpai sehari-harinya. Namun akar masalahnya ada pada ide menulis, yaitu yang menyatakan identitas penulis itu sendiri. Ide adalah simbol originalitas seorang penulis. Dengan bermodal originalitas ide, maka seseorang dapat menulis kreatif kapan pun dan sebanyak apa pun.
Demikian ulasanku mengenai menulis kreatif. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar