Istilah setting sudah sangat akrab terdengar di telinga kita tatkala kita membicarakan sebuah karya sastra, dalam hal ini adalah novel. Seperti yang kita tahu, setting merupakan gambaran yang menjadi latar belakang terjadinya suatu cerita. Setting bisa berupa tempat, waktu, keadaan, dan suasana. Dengan demikian setting menjadi salah satu elemen yang mempunyai kedudukan sangat penting dalam menciptakan alur cerita. Bagaimana kita menjaga kesinambungan suatu cerita dapat diwujudkan dalam pemilihan setting dengan tepat.
Dalam menulis naskah novel, umumnya seorang penulis akan menggunakan setting fiksi ataupun semifiksi. Kedua jenis setting tesebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jenis pemakaian setting yang pertama adalah setting fiksi; yaitu tipe setting yang digunakan berdasarkan pencitraan fiktif murni dari penulisnya. Misalnya saja penggambaran tentang lokasi ataupun suasana dan kejadian alamnya benar-benar fiktif, hampir tidak mungkin atau jarang bisa dilihat di dunia nyata. Kalau dari tempatnya sendiri mungkin memang benar-benar fiktif, artinya kita tidak bisa menjumpai tempat yang menjadi setting ditulisnya naskah novel tersebut dalam dunia nyata.
Di lain sisi, setting semifiksi adalah penggunaan setting dimana setting sebuah naskah novel dibentuk dengan menggunakan apa-apa yang dijumpai oleh si penulis dalam kesehariannya. Hal ini bisa bersumber pada pengalaman pribadinya, cerita dari orang lain atau sumber tertentu, artikel dan sumber lainnya yang secara nyata memang ada di kehidupan nyata. Misalnya saja ketika aku pernah pergi berwisata ke candi Borobudur, maka kemudian aku menjadikan segala tata letak dan suasana di sekitar candi Borobudur mulai dari tatanan tamannya, orang-orangnya yang ramai berjualan di sana, kemudian awan saat siang hari aku di sana dan lain sebagainya. Dalam hal ini kemudian penulis menggunakan sema informasi tersebut untuk kemudian dipadukan dengan sentuhan fiktif sang penulis dan jadilah sebuah setting semifiksi yang dimaksud.
Masing-masing setting tersebut mempunyai keunggulan masing-masing. Sebagai contoh keunggulan setting fiksi murni adalah tingkat imajinasi karya yang tidak terbatas, artinya seorang penulis mempunyai kesempatan begitu besar untuk mewujudkan dunianya yang sempurna di dalam novel karyanya. Tidak terbatas oleh semua batasan-batasan setting tempat yang ada di dunia nyata, seorang penulis boleh berimajinasi untuk menciptakan nama-nama tempat, suasana-suasana yang mendukung, yang semuanya benar-benar fiktif. Sementara itu keunggulan setting semifiksi adalah kemudahan dalam penggunaannya. Hal ini dikarenakan dalam menciptakan sebuah setting yang tepat untuk sebuah naskah novel yang tengah digarap, seorang penulis bisa mengambil contoh riil yang ada di dalam kehidupan nyata. Hal ini tentu memudahkan para penulis untuk kemudian mengambil dan menerapkannya pada naskah yang mereka buat. Dengan beberapa sentuhan original dari sanga penulis, maka setting ini bisa menjadi sebuah gaya penulisan yang atraktif dan kuat. Pengalaman dalam penggabungan ini membutuhkan jam terbang yang cukup dengan didukung banyak latihan.
Selain kelebihan, kedua tipe setting tersebut juga mempunyai sisi yang perlu mendapat perhatian. Aku katakan di sini sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian, bukan sebagai kelemahan. Untuk setting fiksi, karena kebebasannya yang sebebas-bebasnya, maka dituntut perlunya keluesan seorang penulis dalam berpikir. Sebagian besar penulis tidak sepebuhnya menggunakan setting fiksi karena memang untuk menggunakan atau lebih tepatnya menciptakan setting fiksi ini tidaklah mudah. Seorang penulis harus benar-benar mampu menciptakan gagasan mengenai setting novel yang berkesinambungan dan mempunyai jalinan erat baik tempat, waktu, suasananya. Di lain pihak, dalam penggunaan setting fiksi, seorang penulis juga dituntut untuk mampu mengkreasikan setting nyata yang ada dengan kreativitasnya. Kreativitas ini biasanya diwujudkan dalam bentuk kemasan baru. Karena setting yang digunakan sebagaian besar terinspirasi secara langsung dari dunia nyata, maka untuk menghindarkan efek kejenuhan pembaca, seorang penulis harus mampu mengemas setting tersebut dengan sebuah kemasan baru yang mempunyai kekuatan yang cukup agar karyanya bisa tampil fenomenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar